For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser. Generali Indonesia
application/views/upload/banner/20150703102606-gambar-Banner02-small.jpg
Tanggal : 19 Juni 2019
 

Prospek Pasar

Prospek Pasar & Rekomendasi Strategi ARMS Mei 2017

 

GLOBAL OUTLOOK – 1 MAY 2017
Reflation Trade Mereda ditengah Melemahnya Makro Global
Pelemahan Dollar Index Jaga Minat Beli di Emerging Market
 
Dana Asing Topang IHSG paska Cetak Rekor Tertinggi Baru
Paska 100 hari pertama, upaya Trump menerapkan reflation trade dengan memangkas pajak dan mendongkrak belanja infrastruktur berisiko mundur realisasinya ke 2018, terlebih setelah kubu Republik menyatakan tidak siap mendukung voting UU perombakan Obama Care. Secara bersamaan, PDB AS tumbuh 0,7% pada 1Q17 terendah dalam 3 tahun terakhir, saat indeks jasa dan manufaktur China melemah. Akibatnya, euforia transaksi berdasar ekspektasi lonjakan inflasi global atau reflation trade pun mereda seiring turunnya konfidens investor atas pertumbuhan ekonomi global; USD Dollar Index (DXY) tampak melemah. Potensi kenaikan fed-rate 25bps ke 1,25% di bulan Juni masih menjadi faktor yang mempengaruhi sentimen pasar. Namun hal itu sudah diantisipasi oleh pelaku pasar, sementara likuiditas global diperkirakan tetap stabil; pasalnya bank sentral Jepang dan Eropa belum mengindikasikan penurunan stimulus (tapering). Kekalahan partai populis pada pemilu di Belanda dan Perancis membantu nilai EUR dan konfidens atas bursa Eropa menguat. Akibatnya, mata uang dan aset di Eropa dan Emerging Market, yang sempat tertekan di 4Q16-1Q17, valuasinya menarik minat beli dana global. Di April, kinerja bulanan indeks saham dunia: S&P500 (0,9%), Jerman (1%), Perancis (2,8%), Jepang (1.5%), China (-2,1%), India (1%) dan Korea (2,1%). Arus dana asing berlanjut masuk ke IHSG dan obligasi RI. Di April, IHSG naik 2.1% MoM saat asing mencatat Net buy Rp14 tln. Melemahnya US Dollar Index, spekulasi rencana kenaikan rating S&P, musim pembagian dividen dan baiknya laporan keuangan emiten 1Q17 masih mengindikasikan berawalnya momentum earnings upgrade atas emiten IHSG. Kondisi ini berpotensi menjaga aliran modal asing ke bursa RI di 2Q17. Pilkada DKI yang berakhir dengan aman turut membantu konfidens atas prospek ekonomi RI dalam jangka panjang.
 
MACRO OUTLOOK -1 MAY 2017
Kenaikan suku bunga fed rate diperkirakan tetap bertahap dengan proyeksi ada 3 kali kenaikan di 2017; konsensus memproyeksikan kenaikan fed rate selanjutnya di Juni dan Desember. Selama Fed-rate hike tidak dipercepat dan besarannya sesuai ekspektasi, efeknya diperkirakan netral. Di April, yield US Treasury 10 tahun turun ke 2,3% dari 2,4% beda 4,73% dari yield obligasi RI 10 tahun di 7,05%. Dollar Index spot (DXY) pun melemah ke level 99 di bulan April, mendukung sentimen risk-on; memicu aliran arus dana asing menuju Eropa dan EM. Apalagi, industri manufaktur Asia memasuki 2Q17 dengan kinerja yang solid. Di sisi domestik, Indeks Nikkei Manufaktur Indonesia naik ke 51,2 di April dari 50,5. Cadangan devisa RI di April melampaui USD122 miliar, dibantu terbitnya global bonds pemerintah dan lelang SBBI valas. Rupiah stabil -0.02% MoM di Rp 13.329/USD. Kredibilitas fiskal RI di 2017 diperkuat pemangkasan belanja pemerintah dengan sasaran yang lebih bisa dicapai, ditambah efek kenaikan tax base atas income pemerintah paska Tax Amnesty. Di sisi lain, kekalahan kubu pendukung pemerintah di Pilkada DKI putaran II berisiko menurunkan konfidens S&P untuk menaikkan rating hutang RI ke ‘investment grade’.
 
STRATEGI OBLIGASI -1 MAY 2017
Di 2Q17, Rupiah dinilai masih stabil di bawah Rp 13.400/USD setelah tercatat stabil di Rp 13.329 /USD di akhir April. Potensi Fed-rate hike 0,25% bulan Juni dinilai netral, minat asing atas bursa obligasi RI bertahan seiring pelemahan US Dollar Index (DXY) ke level 99 di April. Asing mencatat net buy Rp 23 tln di April saat kepemilikan asing di SUN naik drastis ke 39,1% dari 38,2%. BINDO Index naik 0,8%MoM saat BI 7-days reverse repo rate bertahan 4,75% ditengah inflasi tahunan April yang naik ke 4,17% dari 3,61%. Tren inflasi bisa mereda paska Ramadan dan kenaikan tariff listrik di Mei. Inflasi tahunan diperkirakan masih berada dikisaran 4,2-4,5% meskipun dipengaruhi kenaikan harga BBM RON-88 di 2H17. Disaat BI 7-days repo rate diperkirakan bertahan, spread 2,88% antara Yield SUN tenor 10 thn dan inflasi tahunan RI masih menarik dibanding spread di negara lain Asia, karena apresiasi IDR atas USD belum sebesar apresiasi nilai tukar Asia lainnya. Di 2Q17, optimisme bahwa ekonomi RI di 1Q17 bisa tumbuh 4,95-5% yang akan diumumkan di bulan Mei dapat menjaga konfidens asing atas bursa obligasi RI ditengah stabilnya Rupiah. Jaga alokasi di aset obligasi 10-20% seiring ekspektasi return obligasi RI 12% di 2017 (10% year to date)
 
STRATEGI SAHAM -1 MAY 2017
IHSG sempat cetak rekor tertnggi baru di 5726 sebelum ditutup naik 2,1%MoM di 5685. Reli ini ditopang oleh arus masuk dana asing ke saham berkapitalisasi besar ditengah ekspektasi membaiknya kinerja emiten 1Q17. Indikasi kenaikan Fed rate lanjutan di Juni dan Desember tampaknya dapat diakomodasi bursa global khususnya Emerging Market; ini tercermin dari minimnya volatilitas. USD Index (DXY) yang sempat melemah, justru memicu sentimen risk-on dan berbaliknya arus dana global ke bursa saham dan EM. Investor asing mencatat net buy Rp 14 tln dari Rp 10 tln di Maret. Pilkada II DKI yang berakhir aman, mengakhiri episode ketidakpastian dalam jangka pendek. Kinerja pendapatan emiten di 1Q17 mengindikasikan siklus upgrade pendapatan emiten IHSG, khususnya sektor infrastruktur, auto, telkom dan komoditas. Upgrade atas IHSG secara keseluruhan kemungkinan baru terjadi di musim laporan keuangan 2Q17; seiring efek pulihnya komoditas. Ramadan berpotensi menjadi katalis atas daya konsumsi dan pembelian retail di 2Q17. Prospek positif IHSG di 2017 didukung prospek stabilnya IDR dan ekspektasi return 16% di 2017 (7,3% year to date); seiring PER 16,7x IHSG dan earnings growth (EPS) 18,2% di 2017.

Untuk Rekomendasi Strategi ARMS, klik link ini