For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser. Generali Indonesia
application/views/upload/banner/20150703102606-gambar-Banner02-small.jpg
Tanggal : 19 April 2019
 

Prospek Pasar

Prospek Pasar & Rekomendasi Strategi ARMS Juni 2017

 

GLOBAL OUTLOOK – 1 JUNE 2017
Inflasi AS dibawah Target The Fed, USD Berlanjut Melemah
Peluang Kenaikan Fed Rate di September Turun Drastis
 
Kerentanan Bursa RI Makin Rendah Paska Investment Grade
Konsensus analis menilai 90.6% peluang kenaikan fed-rate kedua sebesar 25bps ke 1,25% di pertengahan Juni, dan hal ini telah diantisipasi pelaku pasar. Namun, peluang kenaikan Fed-rate ketiga di September hanya 28%, seiring data inflasi AS yang dibawah ekspektasi the Fed akibat tersendatnya kebijakan ekspansi ekonomi Trump. Di sisi lain, the Fed mulai mendiskusikan pemangkasan neraca keuangan sebesar USD 4,5 tln. Pemangkasan dilakukan secara bertahap dan perlahan dengan membatasi nilai obligasi jatuh tempo yang diinvestasikan kembali ke depan (rollover cap). Likuiditas global diperkirakan masih stabil karena bank sentral Jepang dan Eropa belum memberi indikasi untuk mengurangi stimulus (tapering). Minat beli dana global atas mata uang dan aset di Eropa dan Emerging Market masih bisa bertahan hingga 3Q17. Pasalnya, USD Dollar Index (DXY) diperkirakan melemah terbatas, seiring kemungkinan mundurnya kenaikan Fed rate ketiga tahun ini ke 4Q17. Pada bulan Mei, kinerja bulanan indeks saham global: S&P500 (1,2%), Perancis (0,3%), Jerman (1.4%), Jepang (2.4%), China (-1,2%), India (4,1%) dan Korea (6,4%). Pada 19 Mei, S&P menaikkan peringkat hutang RI menjadi status Investment Grade; memperluas basis investor institusi global. IHSG juga sempat menguji rekor tertinggi baru di 5874 sebelum ditutup di level 5783 (0,9% MoM) di akhir Mei, meski asing mencatat net sell Rp625 miliar. Melemahnya US Dollar Index, turunnya kerentanan bursa RI paska status Investment Grade, proyeksi membaiknya kinerja keuangan emiten 2Q17 masih mengindikasikan awal momentum earnings upgrade atas emiten IHSG. Kondisi ini berpotensi menjaga aliran modal asing ke bursa RI hingga 3Q17. Paska pergantian Gubernur DKI, belanja infrastruktur pemerintah di 2017 pun berpotensi dipercepat.
 
MACRO OUTLOOK -1 JUNE 2017
Di Mei, imbal hasil US Treasury 10 tahun turun ke 2,2% dari 2,3%; beda 4,75% dari yield obligasi RI 10 tahun di level 6,95%. Seiring meningkatnya keraguan investor akan kenaikan fed rate ketiga tahun ini di September, Dollar Index spot (DXY) diperkirakan alami down-trend hingga 3Q17 dan menjaga sentimen risk-on dan aliran arus dana asing menuju Eropa dan EM. Potensi apresiasi Rupiah atas USD ditengah upgrade rating hutang RI oleh S&P, diperkirakan oleh BKPM bisa mengundang aliran modal asing USD 5-10 miliar dalam 1-2 tahun ke depan. Cadangan devisa RI di Mei maka dengan mudah menembus USD 124 milyar dari USD 123,2 milyar di April, dibantu rilis samurai bond senilai USD 900 milyar di akhir Mei. Di sisi domestik, Indeks Nikkei Manufaktur Indonesia turun ke 50,6 di Mei dari 51,2. Rupiah stabil +0.05%MoM di Rp 13.323/USD. Kekalahan kubu pendukung pemerintah pada Pilkada DKI ternyata tidak menahan S&P untuk menaikkan Rating hutang RI ke BBB- dengan outlook stabil; didukung kemampuan pemerintah RI turunkan risiko fiskal dengan fokus menjaga alokasi anggaran sehingga defisit APBN dibawah 2,5% PDB, suksesnya pengurangan subsidi dan Tax Amnesty menambal kekurangan penerimaan pajak RI.
 
STRATEGI OBLIGASI -1 JUNE 2017
Di Juni, Rupiah berpeluang menguat dibawah Rp 13.300/USD setelah tercatat stabil di Rp 13.323 /USD pada akhir Mei; didukung DXY Index yang berpotensi melemah terbatas dan status ‘layak investasi’. Potensi Fed-rate hike 0,25% bulan Juni dinilai netral. Asing mencatat net buy Rp 10 tln di Mei saat kepemilikan asing di SUN bertahan pada 39,1%. BINDO Index naik 1,1%MoM saat BI 7-days reverse repo rate bertahan 4,75% ditengah kenaikan inflasi tahunan April ke 4,33% dari 4,17%. Tren inflasi baru akan mereda paska Ramadan (inflasi transportasi dan pangan) dan efek kenaikan tariff listrik. Inflasi tahunan diperkirakan masih dikisaran 4,3-4,5% meski dipengaruhi efek kenaikan harga BBM RON-88 di 2H17. Didukung stabilnya BI 7-days repo rate dan inflasi rendah, spread 2,62% antara Yield SUN 10 tahun RI masih lebih menarik dibanding spread di Asia dan India. Apalagi apresiasi IDR atas USD tidak sebesar apresiasi nilai tukar Asia lainnya. Pemerintah memperkirakan PDB 2017 mencapai 5,1-5,3% meski defisit APBN melebar jadi 2,5%; ekonomi RI diumumkan tumbuh 5,01% di 1Q17 Minat beli asing pada bursa obligasi RI masih tinggi ditengah stabilnya Rupiah dan ekspektasi return obligasi RI 12% 2017 (8,6% year to date).
 
STRATEGI SAHAM -1 JUNE 2017
IHSG sempat sentuh rekor tertinggi baru di 5874 sebelum ditutup naik 0,9%MoM di 5783. Reli ini dipicu status ‘layak investasi’ RI, meski terjadi aksi ambil untung di akhir bulan oleh asing sehingga tercatat net sell Rp 0,6 tln dari net buy Rp 14 tln di April. Meski dibayangi Fed rate hike di Juni, keraguan investor atas kenaikan ketiga di September justru menjadi perhatian utama bursa global khususnya Emerging Market; tercermin pada USD Index (DXY) yang berlanjut melemah, sehingga menjaga sentimen risk-on serta berlanjutnya arus dana global ke bursa saham dan EM. Di domestik, ekspektasi membaiknya kinerja pendapatan emiten di 2Q17 menunjukkan siklus upgrade pendapatan atas sektor infrastruktur, auto, telkom, komoditas bisa berlanjut ke emiten pada sektor lainnya sehingga Upgrade atas IHSG secara keseluruhan berpeluang terjadi pada musim laporan keuangan 2Q-3Q17; seiring efek ungkit turunnya bunga kredit ke konsumsi. Efek Ramadhan bisa mejadi katalis bagi konsumsi dan pembelian retail di 2Q17. Prospek positif IHSG di 2017 didukung efek status ‘layak investasi’ atas hutang RI dan ekspektasi return 16% di 2017 (8,3% year to date); seiring PER 16,9x dan earnings growth (EPS) 17,9% atas IHSG di 2017.

Untuk Rekomendasi Strategi ARMS, klik link ini