For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser. Generali Indonesia
application/views/upload/banner/20150703102606-gambar-Banner02-small.jpg
Tanggal : 19 April 2019
 

Prospek Pasar

Prospek Pasar & Rekomendasi Strategi ARMS Juli 2017

 

GLOBAL OUTLOOK – 1 JULY 2017
Bank Sentral AS, Eropa dan Inggris Sinyalir Turunkan Stimulus
Meski Investor Global Masih Ragukan Pemulihan Global
 
Sentimen Pengetatan Stimulus Berpotensi Tekan Bursa Global
Di bulan Juni, the Fed naikkan fed-rate kedua sebesar 25bps ke 1,25% di pertengahan Juni, selain berniat menaikkan fed-rate 1 kali lagi di 2017 dan 3 kali di 2018, serta berencana mengecilkan neraca the Fed dari level USD4,5 tln secara bertahap dengan membatasi reinvestasi atas obligasi yang jatuh tempo mulai akhir 2017. Namun paska pengumuman, yield obligasi pemerintah AS 10 tahun justru turun ke 2,13%; menunjukkan rendahnya keyakinan investor atas pemulihan ekonomi AS. Pasalnya, data penjualan dan angka inflasi AS masih dibawah harapan seiring tersendatnya kebijakan ekspansi ekonomi Trump. Harga minyak WTI yang jadi indikator produksi global pun sempat anjlok ke USD 43/barel, dipicu meningkatnya produksi  Amerika dan keraguan atas kemampuan OPEC menahan produksi seiring embargo Saudi atas Qatar. Namun, bursa global mulai alami tekanan di minggu terakhir bulan Juni, seiring komentar bank sentral AS, Inggris dan Eropa yang ‘hawkish’ dan meyakinkan pasar bahwa kondisi ekonomi telah membaik dan meminta investor menyambut kenaikan suku bunga. Bursa global pun menjadi serius menyikapi ‘forward policy guidance’, dipicu kekuatiran turunnya dukungan likuiditas bank sentral utama dunia di 4Q17. Namun, tren pelemahan USD Dollar Index (DXY) masih menjaga minat beli global atas aset di Emerging Market. Di Juni, kinerja bulanan indeks saham global mixed: S&P500 (0,5%), Perancis (-3,1%), Jerman (-2.3%), Jepang (1.9%), China (2,4%), India (-0,7%), Korea (1,9%). IHSG capai rekor tertinggi baru di 5830 (1,6% MoM) di akhir Juni, meski asing mencatat net sell Rp4,3 triliun. Di Juli, tren lemahnya US Dollar dan turunnya kerentanan bursa RI paska status ‘Layak Investasi’, bisa menjaga minat beli investor domestik mengimbangi aksi ambil untung asing saat terbawa isu stimulus tapering.
 
MACRO OUTLOOK -1 JULY 2017
Di Juni, USD Dollar Index (DXY) melanjutkan tren melemah selama 4 bulan terakhir ke level 95.6 (-1.34%MoM) sehingga alokasi dana global atas mata uang dan aset di Emerging Market masih berlanjut. Yield US Treasury 10 tahun sempat turun ke 2,1% namun ditutup melonjak ke 2,3%; beda 4,75% dari yield obligasi RI 10 tahun di level 7,05%. Meski Dollar Index spot (DXY) diperkirakan masih down-trend hingga 3Q17, arahsentimen risk-on arus dana asing ke Eropa dan EM mulai dibayangi isu stimulus tapering. Saat timbul kekuatiran berkurangnya dukungan likuiditas global oleh bank sentral dunia, kerentanan bursa RI dinilai makin rendah paska mendapat status Investment Grade. Cadangan devisa RI di Mei mencapai USD 124,95 milyar dari USD 123,2 milyar di April, turut menjaga konfidens atas stabilitas Rupiah atas USD hingga akhir 2017. Di Juni, Rupiah diprdagangkan stabil (-0.04%MoM) Rp 13.328/USD. Paska S&P naikan Rating hutang RI menjadi BBB- dengan outlook stabil, fitch dan moody’s pun berpeluang upgrade peringkat RI kembali. Namun isu pengetatan kebijakan bankbank sentral dunia mulai membawa tekanan jual atas bursa obligasi di AS dan Eropa. Volatilitas bursa global dan Asia berpotensi naik bertahap.
 
STRATEGI OBLIGASI -1 JULY 2017
Di Juni, Rupiah berpeluang bergerak ke arah Rp 13.400/USD setelah terjaga stabil di Rp 13.300/USD di Q2 2017. DXY Index yang diproyeksikan melemah terbatas dan status ‘layak investasi’ hutang RI ikut bantu stabilitas Rupiah. Investor asing mencatat net buy Rp 14,4 tln di Juni dan kepemilikan asing atas SUN naik 0,4% ke 39,5%. BINDO Index net naik 1,1%MoM saat BI 7-days reverse repo rate ditahan di 4,75% seiring inflasi tahunan Juni yang terkendali 4,37%, dari 4,33%. Tren inflasi dinilai telah memuncak, akan mulai reda paska Ramadan ke 4,3-4,5% di 2H17. Pasal nya PLN menyatakan 1 Juli tak ada kenaikan TDL dan pencabutan subsidi, dan Pemerintah belum akan menaikkan harga BBM di 2017. Didukung stabilnya BI 7-days repo rate dan inflasi rendah, spread 2,68% antara inflasi dengan Yield SUN 10 tahun RI masih menarik dibanding spread di Asia dan India. Apalagi apresiasi IDR atas USD tidak sebesar apresiasi nilai tukar negara Asia lainnya. Tekanan kenaikan imbal hasil atas obligasi pemerintah negara maju seiring isu pengetatan stimulus, akan membatasi potensi reli di bursa obligasi RI pada Q3 2017. Minat beli asing masih terjaga sepanjang Rupiah terjaga stabil ditengah ekspektasi return obligasi RI 12% 2017 (9,4%YtD)
 
STRATEGI SAHAM -1 JULY 2017
IHSG ditutup naik 1,6%MoM di 5830 mendekati level psikologi 5900. Reli ini dipicu aksi beli domestik, meski dana asing kembali mencatat net sell Rp 4,3 tln dari net sell Rp Rp 0,6 tln di Mei. Keraguan investor atas kenaikan fed-rate ketiga di September menjadi katalis utama bagi masuknya arus dana ke Emerging Market; tercermin pada USD Index (DXY) yang berlanjut melemah, sehingga menjaga sentimen risk-on. IHSG tidak sempat terimbas sentimen negatif isu stimulus tapering seiring libur panjang lebaran. Bulan ini, isu tersebut akan mulai berimbas ke IHSG bersamaan dengan masuknya data retail domestik. BI memproyeksikan PDB RI 2Q17 sebesar 5,11% YoY atau lebih rendah dari yang perkiraan awal. BI juga menurunkan proyeksi PDB 2017 menjadi 5,17%YoY dari 5,2%YoY. Data konsumsi domestik, termasuk penjualan retail dan motor 2Q17 diindikasikan lebih rendah dari ekspektasi; efek lebaran gagal menjadi katalis. Para analis berpeluang evaluasi ulang momentum upgrade IHSG. Namun, prospek positif atas IHSG di 2017 masih dibantu oleh efek ungkit status “layak investasi”, penurunan bunga kredit ke konsumsi dan ekspektasi return 16% di 2017 (10,1% YtD); seiring PER 17x dan EPS growth 17,4% IHSG pada 2017.

Untuk Rekomendasi Strategi ARMS, klik link ini