For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser. Generali Indonesia
application/views/upload/banner/20150703102606-gambar-Banner02-small.jpg
Tanggal : 19 Juni 2019
 

Prospek Pasar

Prospek Pasar & Rekomendasi Strategi ARMS Agustus 2017

 

GLOBAL OUTLOOK – 1 AGUSTUS 2017
Rencana Normalisasi Bank Sentral AS dan Eropa Meredup
Data inflasi 2Q17 Kelompok G-20 Terendah 8 tahun Terakhir
 
Efek Sentimen Pengetatan Stimulus atas Bursa Global Mereda
Bank sentral AS, Inggris dan Eropa mulai berkomentar ‘dovish’ meskipun mempertahankan ‘forward policy guidance’. Pasalnya, data inflasi negaranegara G-20 di 2Q17, merosot ke level terendah selama delapan tahun. Hal ini mempersulit bank sentral untuk secara lugas memutuskan normalisasi kebijakan stimulus. Di Juli, risalah rapat pertemuan the Fed Juni membahas rencana penyusutan neraca dari USD 4,5 tln secara bertahap dengan membatasi reinvestasi atas US Treasury dan Mortgage Debt Securities dengan nominal di atas USD 6 dan 4 miliar per triwulan lalu naik bertahap 2x lipat hingga maks USD 30 dan 20 miliar per triwulan. Dibayangi keraguan atas waktu realisasi dan imbasnya, pelaku pasar belum bereaksi penuh. Di sisi positif, bursa AS reli ke titik tertinggi baru seiring kinerja profit emiten S&P500 78% di atas ekspektasi konsensus. PDB AS tumbuh 2,6% di 2Q17 dari 1,9% di 1Q17, mendorong ekpektasi normalisasi neraca the Fed bisa terjadi di Desember. Tren pelemahan USD Dollar Index (DXY) berlanjut dan menjaga minat beli global atas aset di Emerging Market; indeks MSCI Asia Pacific ex Japan naik 4,8%MoM. Di sisi lain, nilai EUR dan JPY berlanjut menguat atas USD seiring belum ada kejelasan rencana atas normalisasi stimulus ECB dan BOJ. Di bulan Juli, kinerja bulanan indeks saham global mixed: S&P500 (1,9%), Perancis (-0,5%), Jerman (-1.7%), Jepang (-0.5%), China (2,5%), India (5,2%), Korea (0,5%). IHSG capai rekor tertinggi baru di 5841 (0,2% MoM) di akhir Juli, meski asing mencatat net sell Rp 10,2 triliun. Rupiah yang diperdagangkan stabil di Rp13,325/USD (0.02% MoM) di Juli turut menjaga konfidens. Di Agustus, tren lemahnya US Dollar dan turunnya kerentanan bursa RI paska status ‘Layak Investasi’, masih dapat menjaga aksi beli investor domestik, mengimbangi aksi ambil untung asing pada saat bursa saham dunia masih dibayangi isu stimulus tapering.
 
MACRO OUTLOOK -1 AGUSTUS 2017
Di Juli, USD Dollar Index (DXY) melanjutkan tren melemah selama 5 bulan terakhir ke level 92.86 (-2.9%MoM) menjaga minat alokasi dana global atas kurs dan aset di Emerging Market. Yield US Treasury 10 tahun sempat naik ke 2,4% namun ditutup stabil di 2,25%;rentang 4,65% dari yield obligasi RI 10 tahun di level 6,90%. Meski Dollar Index spot (DXY) diperkirakan masih down-trend sepanjang 3Q17, arah sentimen risk-on dana global ke Eropa dan EM terus dibayangi stimulus tapering. Di sisi positif, kerentanan bursa RI dinilai rendah paska memperoleh status Investment Grade. Terlebih setelah cadangan devisa RI Juli mencapai titik tertinggi baru USD 127,8 milyar naik USD 4,7 milyar dari Juni; menjaga konfidens stabilitas Rupiah atas USD hingga akhir 2017. Di Juli, Rupiah diperdagangkan stabil (0.02%MoM) Rp 13.325/USD saat USD terus melemah. Di sisi negatif, PDB RI 2Q17 diumumkan 5,01%, sedikit di bawah konsensus 5,08%. Setelah S&P naikan Rating hutang RI menjadi BBB- dengan outlook stabil, fitch dan moody’s berpeluang upgrade peringkat RI, meskipun isu normalisasi stimulus bank sentral dunia tetap membawa tekanan jual atas bursa obligasi di AS dan Eropa. Volatilitas bursa global dan Asia berpeluang naik bertahap.
 
STRATEGI OBLIGASI -1 AGUSTUS 2017
Di Agustus, diusahakan stabil di Rp 13.300/USD oleh BI didukung status ‘layak investasi’ hutang RI dan kuatnya cadangan devisa. Investor asing catat net buy Rp 5 tln di Juli meski kepemilikan asing atas SUN turun 0,12% ke 39,3%. BINDO Index net datar 0,03% MoM seiring BI 7-days reverse repo rate bertahan di 4,75% saat inflasi tahunan Juli yang reda ke 3,88% dari 4,37% paska Lebaran, berkat terhentinya kenaikan tarif listrik dan pencabutan subsidi, dan Pemerintah belum akan menaikkan harga BBM. Dengan inflasi di bawah 4%, daya saing industri nasional masih kompetitif di ASEAN. Pemerintah RI wajib menjaga inflasi tetap rendah agar daya beli dan konsumsi meningkat dan target PDB 2017 bisa tercapai. Didukung suku bunga patokan stabil dan inflasi rendah, spread 3% antar inflasi RI dan Yield SUN 10 tahun masih menarik dibanding spread di Asia dan India. Terlebih apresiasi IDR atas USD tak sebesar apresiasi nilai tukar negara Asia lain. Tekanan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di negara maju seiring isu rencana normalisasi stimulus, masih membatasi potensi reli di bursa obligasi RI pada 3Q17. Minat beli terjaga sepanjang Rupiah terjaga stabil ditengah ekspektasi return obligasi RI 12% 2017 (9,9%YtD)
 
STRATEGI SAHAM -1 AGUSTUS 2017
IHSG ditutup naik 0,2%MoM di 5841 mendekati level psikologi 5900. Reli ini dipicu aksi beli domestik, meski dana asing kembali mencatat net sell Rp 10,2 tln dari net sell Rp Rp 4,3 tln di Mei. Keraguan investor atas kenaikan fed-rate ketiga di September menjadi katalis utama bagi masuknya arus dana ke Emerging Market; tercermin pada USD Index (DXY) yang berlanjut melemah, sehingga menjaga sentimen risk-on dan mengimbangi sentimen negatif isu stimulus tapering. Bulan ini, isu data retail domestik, PDB RI 2Q17 dan kinerja emiten IHSG 2Q17 yang tumbuh di bawah konsensus dapat membatasi reli IHSG . Pendapatan emiten di 2Q17 tumbuh 21% melambat dari 26% di 1Q17. 51% emiten IHSG kinerjanya dibawah konsensus: termasuk sektor otomotif, konstruksi, property, dan konsumer. Data penjualan retail dan motor 2Q17 juga di bawah ekspektasi; efek lebaran gagal menjadi katalis. Implikasinya, para analis pun berpotensi mundurkan momentum upgrade IHSG ke 4Q17. Namun, prospek positif atas IHSG di 2017 masih dibantu oleh efek ungkit status “layak investasi”, inflasi rendah, penurunan bunga kredit dan ekspektasi return 16% di 2017 (10,3% YtD); seiring PER 17,4x dan EPS growth 17% IHSG pada 2017.

Untuk Rekomendasi Strategi ARMS, klik link ini